29 Mar 2018

Dua Pendaki Wanita Mulai Misi Tancapkan Merah Putih di Everest

Dua pendaki wanita Indonesia yang akan memulai misi menancapkan bendera Merah Putih di puncak Everest (Dok. Wissemu)

(pendakiceria.com) -- Dua pendaki wanita Indonesia yaitu Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) dan Mathilda Dwi Lestari (24) akan memulai misi petualangannya untuk menancapkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi dunia yakni puncak Gunung Everest. Sebelum berangkat, keduanya menggelar acara pelepasan yang berlangsung di kantor Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis (29/3/2018).

Tergabung dalam tim The Women of Indonesia's Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU), Gunung Everest akan menjadi puncak gunung terakhir dari rangkaian misi mengibarkan bendera Indonesia di tujuh gunung tertinggi di tujuh benua.

Kedua pendaki wanita itu sebelumnya telah berhasil mencapai enam puncak gunung tertinggi di belahan dunia lain yakni Gunung Carstensz Pyramid (4.884 mdpl), Gunung Elbrus (5.642 mdpl), Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl), Gunung Aconcagua (6.962 mdpl), Gunung Vinson Massif (4.892 mdpl), dan Gunung Denali (6.190 mdpl) dalam empat tahun ke belakang.

Mathilda, mengungkapkan bahwa semua pengalaman yang telah kita dapat selama empat tahun melakukan ekspedisi ini, dirinya merasa cukup siap untuk melaksanakan ekspedisi terakhir ini. Meski perjalanan ini hampir terancam tidak terealisasi karena permasalahan dana.

"Puji Tuhan kami akhirnya didukung oleh Bank BRI sebagai sponsor utama, sponsor pendukung, dan warga Indonesia yang turut membantu kami melalui sumbangan sehingga kami dapat berangkat menuju gunung terakhir ini," kata Mathilda pada acara pelepasan keduanya menuju Gunung Everest di kantor Sekretariat Negara, Kamis (29/3/2018).

Pendakian kali ini, Everest disebut akan menghadirkan tantangan ekstra, karena di tengah perjuangan untuk membawa diri menapakkan langkah demi langkah menuju puncak, oksigen di ketinggian ini berkurang hanya menjadi sepertiga, dibandingkan dengan yang biasa dihirup dengan bebas sekarang ini.

Frans, salah satu Seven Summiteers Indonesia yang pernah menjejakkan kakinya di gunung tersebut mengingat bahwa dengan oksigen setipis itu, pendakian menjadi amat berat. "Badan terasa amat dingin. Napas menjadi amat berat. Jalan satu langkah membutuhkan empat kali pengambilan napas," ujarnya.

Hal ini sudah ia rasakan di area sekitar Camp 3 yang berketinggian sekitar 7.200 mdpl, bahkan sebelum mencapai ketinggian 8.000 meter.

Di musim dingin pada Januari, suhu di puncak Everest bisa mencapai -60 derajat Celsius. Pada musim panas yang merupakan musim pendakian, suhu udara di pucuk bumi ini "hanya" berkisar diangka -20 derajat Celsius, menambah tantangan lebih bagi pendaki, apalagi yang berasal dari daerah beriklim tropis seperti Indonesia.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Our Member

Advertisement