28 Des 2017

CerPen: Tentang Dia

Ilustrasi Stasiun Kereta Api (Foto: pendakiceria.com/DenChito)

(pendakiceria.com)
-- Entah kenapa semalam aku memimpikanmu. Iyaaa.... kamu gadis ayu dengan senyum manis terpampang di wajahmu ketika pertama kali melihatmu dulu

Kamu yang kala itu begitu menawan dengan balutan jilbab merah muda dengan setelan celana panjang berbahan jeans dengan warna hitam seperti kopi pagi yang biasa aku minum. Tak ketinggalan baju bergaris-garis yang kamu kenakan waktu itu menambah kesan cantik dan sederhanamu. Dan...... aku menyukainya!! hehe

Aiiiihhh... tunggu.. masih ada lagi loh, tas ransel besar yang kau gendong serta sepatu kets berwarna abu-abu yang terlihat sedikit kusam tapi begitu membuat kamu terkesan simpel dan berjiwa petualang.. Ya..... kembali aku SUKA!!!

Entah kenapa waktu itu, kala pertama kali aku bertemu denganmu di sebuah stasiun kereta, sembari menunggu kereta malam menuju Jogja yang masih beberapa jam lagi tibanya, mata ini tak pernah mau berpaling darimu dan yang ada dalam pikiranku saat itu adalah semoga nanti kita satu jurusan, satu gerbong dan bersebelahan duduknya (berharap boleh dong) :)

Kereta malam pun tiba, dan ternyata kita benar satu tujuan dan mungkin Tuhan sedang baik, jadi apa yang aku pikirkan sebelum berangkat itu menjadi kenyataan semua, aku kira ini hanya ada di sinetron-sinetron ala cinta, namun nyatanya ini terjadi padaku... ahhhhh.... bisa mati kaku ini.

Sembari menaruh tas di ranjang atas, aku dengan gemetaran menyapanya dengan senyuman, mungkin rada pahit dilihat olehnya atau tak tahu juga kesannya dia seperti apa melihat senyumku, yang pasti dia pun membalas dengan senyuman. Ohhh tidak aku deg.. degan.. Maklum aku adalah tipe pria yang penakut sama wanita, tapi sih kata orang semua laki-laki pun demikian bila bertemu dengan idolanya.

Kereta pun melaju perlahan meninggalkan Ibukota yang katanya lebih kejam dari Ibu tiri. hahaha.. Dan aku pun sudah terduduk di sebelahnya, terbesit di benakku cuma satu kala itu "Tuhan... Kau sungguh baik hati mengabulkan inginku," ujarku dalam hati.

Tak berapa lama mengumpulkan energi, akhirnya dengan rada gemetar aku menyapanya "Hai... mau kemana?," ucapku.

Lalu dia pun menjawab sambil melengkungkan senyum manisnya kepada ku "Hai juga, mau ke Jogja nih, kamu mau ke Jogja juga ya?," ucapnya dengan suara lembutnya bak seorang diva.

Aku pun kembali menimpalkan dengan jawaban dan pertanyaan kepadanya yang menurutku tergolong basa basi "Iya sama. Sendirian ke Jogja? Liburan atau sedang kerja? timpalku.

Sembari mengeluarkan novel dari dalam tas kecilnya dia berkata "Ga kok, di belakang sana ada dua orang temanku, kebetulan kursinya terpisah dan kita mau liburan aja," tuturnya sembari menebarkan senyuman penuh maknanya kembali.

Setelah setengah perjalanan dan mulai terasa keakraban dengan sesekali aku lontarkan guyonan kepada dia serta aku pun sudah tidak gemetaran lagi seperti awal aku menatapnya, mungkin jantungku sudah kembali mengalirkan darah sesuai temponya.

Oyaa.... tertinggal sebelumnya aku sudah berkenalan, dia bernama Vanda masih kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tersohor di negeri ini dan dia mengambil jurusan kedokteran dan aku pun sudah memperkenalkan diriku juga ke dia loh...

Malam kian larut dan suasana di gerbong kereta ini pun mulai terasa sunyi, dan mungkin hanya aku yang masih terjaga. Lalu, aku torehkan pandanganku ke arah dia yang tepat berada di sebelahku sudah pulas tertidur, dan sesekali dia pun tertidur di pundakku, senang juga sih walau terasa beban berat ketika dia bersandar namun demi tidak mengganggu mimpi-mimpinya jadi aku menahannya walau sesekali aku pun juga tertidur di atas kepalanya.

Hari mulai pagi dan sesaat lagi kereta akan sampai ke tujuan, aku dan dia pun terjaga dari tidur malam itu dengan senyum manis yang melekat pada bibirnya. Sembari ngobrol santai dan setegukan air mineral, akhirnya kereta pun sampai di tempat tujuan, yaitu Yogyakarta dimana ini adalah tempat tujuan aku dan dia.

Aku, dia dan dua orang temannya bergegas turun dari kereta, tak lupa aku membantu dia untuk membawakan tas ranselnya yang kurasa begitu berat bebannya. Salam perpisahan pun terjadi dan stasiun itu menjadi saksi akan kisah sementara aku dan dia.

Disela perpisahan dia mengatakan kepadaku "Makasih ya udah nemenin aku di sepanjang perjalanan jadi ga bosan aku," ucapnya dengan penuh rasa manja.

Aku pun menjawab "Iyaa, aku juga senang bisa ngobrol-ngobrol sama kamu, ga terasa ya udah sampe di Jogja aja," tukasku.

Dia pun kembali melontarkan kata-kata yang menurutku sangatlah membuat hati ini berbunga-bunga "Iya benar cepat banget ya udah sampe, padahal seru obrolan kita semalam ya. Oya sampai ketemu lagi ya," ucapnya terburu-buru karena temannya sudah memanggil-manggil namanya dari kejauhan.

Oyaaa... sungguh bodohnya aku kala itu, mungkin karena masih ada rasa deg degan dan grogi kala menatap matanya, aku jadi lupa untuk meminta nomor teleponnya. Tapi mau bagaimana lagi dia sudah menghilang dari pandanganku dan aroma wanginya pun sudah tidak tercium hidungku lagi. Menyesal sih, tapi aku percaya kalau memang jodoh, suatu saat pasti aku akan bertemu lagi dengan dia......

=====
Cerpen ini disadur dari blog Hanya Sebuah Goresan dan telah disunting oleh tim pendakiceria.com
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Our Member

Advertisement